Emiten tambang batu bara dengan produksi terbesar di Indonesia, Bumi Resources (BUMI), disebut sedang mencari mitra strategis dari China. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Independen merangkap Corporate Secretary BUMI Dileep Srivastava.

Dalam keterangannya, Dileep mengungkapkan bahwa BUMI tahun in menargetkan untuk dapat mengamankan dari akses permodalan sehingga perusahaan dapat menuju fase selanjutnya yakni konstruksi.

“Tahun ini ditargetkan dapat dilaksanakan financial closing untuk siap ke tahapan selanjutnya konstruksi,” jelas Dileep dalam keterangannya.

Dirinya tidak merinci berapa dana yang diperlukan untuk menggarap proyek hilirisasi batu bara ini dan struktur pembiayaan antara perusahaan dengan calon mitra dari China.

Beberapa waktu lalu, Presiden Direktur PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Adika Nuraga Bakrie mengatakan bahwa proyek hilirisasi batu bara yang dikerjakan anak usaha yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia berupa gasifikasi batu bara berubah menjadi amonia.

Sebelumnya kedua anak usaha batu bara Grup Bakrie berencana mengembangkan produk hilirisasi batu bara menjadi metanol, namun urung dilaksanakan karena mempertimbangkan beberapa faktor, termasuk pasar.

Dileep mengungkapkan bawa nilai keekonomian proyek hilirisasi sangat sensitif terhadap harga jual produk. Selain itu beberapa komponen lain ikut mempengaruhi, termasuk sejumlah peraturan pemerintah antara lain PNBP Batubara 0%, izin harga batubara khusus, tax holiday & beberapa insentive lainnya.

Meski demikian, dirinya menyebut Grup BUMI akan patuh dengan peraturan yang berlaku.

“Anak usaha BUMI senantiasa berusaha melaksanakan hilirisasi batubara ini sesuai dengan amanat peraturan yang berlaku di Indonesia,” pungkas Dileep.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20240227150602-17-517989/bos-bumi-resources–bumi–buka-bukaan-soal-hilirisasi-batu-bara

0 0 votes
Stock Rating