Harga minyak mentah kompak dibuka sedikit lebih tinggi pada awal perdagangan hari ini, setelah penurunan pada perdagangan sebelumnya setelah rilisnya data inflasi Amerika Serikat (AS) dan kenaikan produksi OPEC.

Pada pembukaan perdagangan hari ini Jumat (1/3/2024), harga minyak mentah WTI dibuka menguat tipis 0,03% di posisi US$78,28 per barel, begitu juga dengan harga minyak mentah brent dibuka lebih tinggi atau naik 0,07% di posisi US$82,09 per barel

Pada perdagangan Kamis (29/2/2024), harga minyak mentah WTI ditutup tekoreksi 0,36% di posisi US$78,26 per barel, begitu juga dengan harga minyak mentah brent turun 1,97% ke posisi US$82,03 per barel.

Harga minyak melemah pada perdagangan Kamis karena data inflasi AS menyiratkan pelemahan ekonomi terbesar di dunia yang dapat melemahkan permintaan minyak mentah, dan peningkatan produksi OPEC juga membebani harga minyak.

Pengukur inflasi pilihan The Federal Reserve (The Fed), indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS, menunjukkan inflasi bulan Januari sejalan dengan ekspektasi para ekonom, sehingga memungkinkan adanya penurunan suku bunga di bulan Juni 2024.

Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) periode Januari 2024 tidak termasuk biaya makanan dan energi meningkat 0,4% dan naik 2,8% dari tahun lalu, seperti yang diperkirakan menurut perkiraan konsensus Dow Jones.

“Data ekonomi, yang beragam, membantu memberikan argumen bagi penurunan suku bunga The Fed, yang mendukung permintaan minyak,” ujar John Kilduff, mitra Again Capital LLC, kepada Reuters.

“Pada saat yang sama, pemotongan tersebut akan dilakukan karena perekonomian sedang melambat dan berdampak pada permintaan minyak,” tambah Kilduff.

Laporan harga konsumen dan produsen pada awal bulan Februari 2024 mengisyaratkan inflasi yang tinggi dan pendekatan yang hati-hati dari para pengambil kebijakan The Fed, yang mendorong investor untuk memundurkan ekspektasi penurunan suku bunga ke bulan Juni 2024 dari bulan Maret 2024.

Inflasi zona euro semakin merosot pada bulan ini, memperkuat alasan bagi Bank Sentral Eropa untuk mulai menurunkan suku bunga pada akhir tahun ini, berdasarkan data dari beberapa negara dengan perekonomian terbesar di kawasan tersebut.

Suku bunga yang tinggi telah membantu banyak negara besar di Barat dalam mengendalikan inflasi, sehingga berpotensi mengurangi pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak.

Di sisi pasokan, persediaan minyak mentah di AS, produsen utama dunia, telah meningkat selama lima minggu berturut-turut, meningkat sebesar 4,2 juta barel, data resmi menunjukkan pada hari Rabu, melebihi perkiraan peningkatan sebesar 2,7 juta barel.

Perpanjangan pengurangan produksi minyak secara sukarela dari kelompok produsen OPEC+ juga dibahas.

“Dengan prospek permintaan yang masih belum pasti, kami pikir OPEC akan memperpanjang perjanjian pasokan saat ini hingga akhir kuartal kedua,” menurut catatan analis ANZ .

Survei Reuters menunjukkan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memproduksi 26,42 juta barel per hari (bph) bulan ini, naik 90.000 barel per hari dari bulan Januari 2024. Produksi Libya naik dari bulan ke bulan sebesar 150.000 barel per hari.

Sementara itu, patokan global Brent telah berada di atas angka US$80 selama tiga minggu, dengan konflik Timur Tengah hanya memiliki dampak kecil terhadap aliran minyak mentah.

Namun, konflik tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, karena Israel dan Hamas mengecilkan prospek gencatan senjata dalam perang mereka di Gaza. Mediator Qatar mengatakan isu-isu paling kontroversial masih belum terselesaikan.

Presiden Joe Biden mengatakan AS sedang memeriksa laporan pasukan Israel yang menembaki orang-orang yang tengah menunggu bantuan makanan di Gaza dan dia yakin insiden mematikan itu akan mempersulit pembicaraan mengenai gencatan senjata.

Survei Reuters terhadap 40 ekonom dan analis memperkirakan harga rata-rata US$81,13 per barel untuk kontrak bulan depan tahun ini.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20240301080622-17-518798/data-inflasi-hingga-produksi-opec-tekan-harga-minyak-dunia

5 1 vote
Stock Rating