Bank Indonesia (BI) meluncurkan transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Tanah Air pada tahun 2019. Namun, sistem pembayaran dengan memanfaatkan QR Code ini tidak populer di kalangan masyarakat.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Dicky Kartikoyono dalam Economic Outlook 2024 CNBC Indonesia, Kamis (29/2/2024).

“Kita perlu mencari sebuah instrumen yang fasilitasi ekonomi yang bisa transaksi langusng, Agustus 2019 luncurkan QRIS, tapi ga populer,” kata Dicky.

Namun, BI tidak menyerah. BI terus berkomitmen mendorong penggunaan QRIS. Saat itu, pandemi melanda Indonesia. Ternyata, pandemi Covid-19 ini membawa berkah.

“Ternyata pandemi. Nah dapat deh used case dimana (masyarakat) menggunakan QRIS,” ujar Dicky.

Dia menjelaskan pesan QRIS ini adalah bisa dipakai dan ditempatkan dimana-mana dengan kemudahan tap to pay dan contactless.

“Messaging formatnya dimasukkan ke dalam QRIS. Lalu harus ada apps yang membaca. Baru ada perintah untuk settlement. Jadi kami bicaranya adalah front end, middle end, back end. Ini akan bisa ditempel dimana-mana,” katanya menjelaskan konsep QRIS.

Sebagai catatan, QRIS kini telah berkembang pesat. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan nilai transaksi QRIS sepanjang 2023 tumbuh 130,01 persen yoy atau mencapai Rp 229,96 triliun

“Nominal transaksi QRIS tercatat tumbuh 130,01 persen yoy dan mencapai Rp229,96 triliun,” kata Perry dalam konferensi pers RDG, dikutip Kamis (29/2/2024).

Perry juga mengungkapkan pengguna QRIS juga meningkat mencapai 45,78 juta. Sementara itu, jumlah merchant juga meningkat menjadi 30,41 juta yang sebagian besar merupakan UMKM.

Ini adalah bukti bahwa QRIS sudah diterima di banyak kalangan masyarakat.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20240229133820-17-518594/dirilis-2019-bi-akui-qris-pernah-tak-populer

0 0 votes
Stock Rating