Bank pelat merah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Senin, 4 Maret 2024. Salah satu mata acara yang ditunggu dalam agenda tahunan tersebut adalah persetujuan penggunaan laba bersih tahun buku 2023.

Dalam mata acara ini BNI akan meminta persetujuan kepada pemegang saham atas laporan tahunan dan pengesahan laporan keuangan konsolidasian. Biasanya, akan dibahas juga penggunaan sebagian laba bersih untuk dibagikan sebagai dividen.

Analis melihat dengan kinerja keuangan BBNI yang kinclong di sepanjang 2023 akan menjadi katalis positif untuk mendongkrak dividen dari bank BUMN dengan logo 46 tersebut.

Untuk diketahui, bank yang masuk kategori KBMI IV ini rutin membagikan dividen setiap tahunnya. Data menunjukkan bahwa di tahun 2020 dan 2021, bank dengan total aset lebih dari Rp 1.000 triliun tersebut membagikan dividen dengan rasio payout sebesar 25% dari laba bersihnya.

Kemudian di tahun 2022 silam rasio payout pembagian dividen BBNI meningkat menjadi 40% dari laba bersih atau setara dengan Rp 196,4/saham di mana pada tahun tersebut perseroan belum melakukan pemecahan nilai nominal saham (stock split). Adapun yield yang dihasilkan mencapai hampir 3%.

Pada 2023, BBNI berhasil menorehkan pertumbuhan laba bersih sebesar Rp 20,9 triliun atau setara dengan laba per saham Rp561, meningkat 14,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan capaian impresif dari laba bersihnya tersebut BBNI diperkirakan berpotensi membagikan dividen dengan nilai yang lebih besar.

Riset Mirae Asset Sekuritas memproyeksi BBNI berpotensi membagikan dividen per saham sebesar Rp 284. Nilai tersebut setara dengan 50,6% dari laba bersihnya. Apabila menggunakan harga penutupan 27 Februari 2024 di Rp 6.000, maka imbal hasil yang ditawarkan mencapai 4,73%.

Yield yang mendekati 5% tersebut tergolong besar, mengingat BBNI juga menjadi salah satu konstituen indeks IDX High Dividend. Mengacu pada keterangan BEI per 20 Januari 2024, BBNI menjadi saham bank BUMN dengan bobot terbesar ke-6 untuk IDX High Dividend dengan bobot mencapai 5,34%.

Meskipun harga saham BBNI beberapa kali cetak rekor all-time high (ATH) di sepanjang 2024 ini dan memberikan capital gain 10,7% secara year to date (ytd), yield dari dividend yang ditawarkan mendekati 5% tergolong tinggi karena di atas suku bunga deposito bank-bank kakap yang masih berada di bawah 4%.

“Dividen Yield berpotensi berada di kisaran 4% bahkan dapat mendekati 5% dengan DPS berpotensi di kisaran Rp224-Rp280, dimana yield ini masih menarik karena di atas inflasi dan deposito,” ujar Sarkia analis Panin Sekuritas dalam keterangan resminya, dikutip Senin (4/3/2024).

Dia mengatakan kenaikan laba BBNI hingga 14,2% yoy juga bisa menjadi katalis untuk meningkatkan dividend payout. Di samping itu rasio kecukupan modal / CAR perseroan sangat mencukupi yakni sebesar 22% dan berada di atas batas minimum OJK, serta dalam jangka panjang BBNI juga menargetkan ROAE bisa sampai 20% di 2028.

“Artinya mendorong pertumbuhan laba dan meningkatkan payout bisa menjadi strategi yang efektif untuk mencapai target tersebut” kata Sarkia analis Panin Sekuritas.

Untuk diketahui, salah satu penyebab pertumbuhan laba bersih BBNI hingga digit ganda di tahun 2023 adalah kemampuan bank dalam mengelola kualitas asetnya. Rasio kredit macet (Non-Performing Loan/NPL) BBNI turun 70 basis poin (bps) menjadi 2,1% dari 2,8% di 2022.

Akibat dari perbaikan kualitas aset tersebut, beban provisi atau pencadangan kerugian penurunan nilainya (cost of credit) dapat turun 20,1% secara tahunan sehingga mendongkrak bottom-line dari perseroan.

Capaian kesuksesan lain yang ditorehkan oleh BBNI di 2023 adalah dari rasio rentabilitasnya dengan Return on Average Equity (ROAE) mencapai 15,2% jauh lebih tinggi sebelum pandemic Covid-19 di 2019 di 14%. Dalam 5 tahun ke depan, tepatnya pada 2028, BBNI menargetkan dapat mencapai ROAE 20%.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20240304091252-17-519334/gelar-rups-hari-ini-intip-kisi-kisi-dividen-bni

0 0 votes
Stock Rating