Jakarta, CNBC Indonesia – PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) mencatat pertumbuhan laba bersih tipis pada kuartal-III 2023. Akan tetapi performa laba tersebut masih di bawah level sebelum pandemi Covid-19. Lantas apakah i MTLA masih menarik untuk investasi saat ini?

Kinerja Finansial

MTLA mencatat pertumbuhan kinerja sebesar 5% pada kuartal-III 2023 menjadi Rp 166 miliar secara tahunan (year on year/yoy). Laba bersih MTLA yang disetahunkan menggunakan metode trailing twelve month (TTM) menunjukkan adanya kenaikan laba bersih 3 tahun beruntun.

Di sisi lain, data menunjukkan performa laba MTLA masih belum mampu menyentuh level pada pra-pan demi, khususnya pada 2019.

Meskipun demikian, pendapatan MTLA sangat memungkinkan untuk menyentuh level tertinggi sepanjang masanya. Hal ini mengindikasikan selisih antara revenue dan laba bersih MTLA mengalami penyusutan.

Margin laba bersih (NPM) MTLA tercatat sebesar 24,71% pada periode Juli-September 2023. Posisi ini cukup rendah jika dibandingkan antara periode 2017-2019 yang berada di kisaran 35%.

Artinya, terdapat penurunan NPM sekitar 10 poin persentase pada kuartal ini dibandingkan level tertingginya. Penurunan NPM dapat disebabkan oleh 2 faktor, yaitu harga jual yang melemah atau biaya beban yang semakin tinggi.

Kondisi Makro Properti Residensial Indonesia

ondisi makro properti domestik menunjukkan secara pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) secara keseluruhan menunjukkan adanya tren kenaikan.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan IHPR kuartal-III 2023 bertumbuh 1,96% menjadi 107,87 indeks poin. Kenaikan ini lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya yang berada di level 1,92%.

Namun, melihat lebih detail, data masih menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan, khususnya untuk rumah tipe kecil dan menengah. Hal ini cukup berbeda jika membandingkan dengan rumah tipe besar yang menunjukkan kenaikan harga tertinggi sejak 2020.

Sebagai catatan, rumah tipe kecil didefinisikan BI dengan luas bangunan 70 meter persegi.

Sebagai informasi, perumahan yang dijual grup Metland memiliki tipe menengah atas, menengah, dan menengah bawah. Hal ini juga terlihat dari breakdown pendapatan Metland non recurring yang menunjukkan 61% berasal dari perumahan menengah ke atas.

Sayangnya, 38% sisanya berasal dari perumahan tipe menengah dan menengah ke bawah. Hal ini mengindikasikan penjualan proyek properti dari MTLA belum sepenuhnya mengalami recovery, khususnya jika melihat perbandingan data secara makro.

Perbandingan kinerja MTLA dengan peers dari segi valuasi, profitabilitas, dan rasio utang menunjukkan kinerja yang berada di level rata-rata. Hal ini mengindikasikan bahwa MTLA tidak memiliki keunggulan yang signifikan, dibanding perusahaan properti lainnya.

Selain itu, secara valuasi MTLA juga berada di rata-rata industri. Hal ini mengindikasikan MTLA sudah berada di nilai wajar. Faktor yang akan menentukan apresiasi harga saham akan cenderung berasal dari kinerja pertumbuhan keuangan perusahaan sendiri.

Layakkah Investasi?

Pertumbuhan kinerja sebesar 5% menjadi Rp 166 miliar pada kuartal-III 2023 memberikan indikasi positif, menjadikan adanya kemungkinan kenaikan laba bersih selama tiga tahun beruntun.

Namun, data juga menunjukkan kesulitan MTLA untuk pulih sepenuhnya pada tahun ini, terutama dalam mencapai level laba bersih tertingginya dibanding pra-pandemi 2019. Selisih antara pendapatan dan laba bersih juga mengalami penyusutan, sehingga NPM turun signifikan dari 35% (2017-2019) menjadi 24,71% pada kuartal ini.

Faktor penurunan NPM dapat berasal dari harga jual yang melemah atau biaya beban yang meningkat. Meskipun kondisi makro properti domestik menunjukkan tren kenaikan IHPR, data mengindikasikan perlambatan pertumbuhan, terutama pada rumah tipe kecil dan menengah. Dengan 61% pendapatan non-recurring berasal dari perumahan menengah atas, sementara 38% dari tipe menengah dan ke bawah, penjualan proyek properti MTLA belum sepenuhnya pulih secara makro.

Perbandingan kinerja MTLA dengan pesaing menunjukkan kinerja rata-rata, mengindikasikan tidak adanya keunggulan yang signifikan, dan valuasi saham yang berada di tingkat wajar industri.

Dengan demikian, pertimbangan untuk berinvestasi sebaiknya dilakukan dengan hati-hati, mempertimbangkan risiko terkait penurunan NPM, pertumbuhan laba yang masih tipis, dan ketidakpastian pemulihan proyek properti. Faktor kenaikan kinerja perseroan akan bergantung dengan pemulihan penuh segmen menengah dan bawah secara makro, mengingat kinerja yang sudah berada di harga wajar jika membandingkan dengan peers-nya.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/research/20231214124725-128-497342/harga-properti-rumah-besar-makin-mahal-saham-mtla-masih-ok

0 0 votes
Stock Rating