Sederet perusahaan manufaktur mobil listrik (Electric Vehicle/ EV) dari berbagai negara tertarik untuk berinvestasi di Indonesia yang saat ini tengah membangun ekosistem baterai EV.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menyebut sejumlah perusahaan manufaktur EV internasional sudah menunjukkan ketertarikannya untuk berinvestasi di Indonesia, antara lain BYD Co Ltd., Wuling Motors, Hyundai, NETA Auto, Chery, hingga Tesla.

Namun bukan tanpa syarat, sederet perusahaan tersebut setidaknya memberikan tiga syarat jika Indonesia mau perusahaan tersebut berinvestasi di Indonesia.

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto mengatakan bahwa ada tiga syarat agar perusahaan manufaktur EV internasional tersebut benar-benar berinvestasi di Indonesia.

“Berdasarkan diskusi kami dengan pabrikan EV tersebut, setidaknya ada tiga hal yang mereka minta. Pertama, mereka menginginkan impor CBU (Completely Built Up), karena apa? mereka ingin menguji pasar. Mereka ingin menguji pasar, model EV seperti apa yang cocok di Indonesia karena ini sangat penting bagi mereka,” jelasnya dalam acara “Nickel Conference 2023” CNBC Indonesia di Jakarta, dikutip Kamis (27/07/2023).

Kemudian syarat yang kedua, Seto mengungkapkan bahwa para investor internasional itu meminta untuk disesuaikannya Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Seto mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini memberikan syarat waktu dua tahun agar TKDN bisa mencapai 60%.

“Yang kedua adalah penyesuaian konten lokal. Ya. Pada dasarnya, Indonesia mengharuskan waktu dua tahun lebih cepat untuk mencapai 60% kandungan lokal. Ini juga menimbulkan masalah,” tambahnya.

Dan yang terakhir, Seto menyebutkan bahwa syarat yang diminta adalah adanya insentif investasi di Indonesia.

“Pemberian insentif seperti insentif perpajakan dan pembebasan bea masuk untuk mengurangi biaya awal mendirikan pabrik,” tandasnya.

Seperti diketahui, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bermimpi menjadikan Indonesia ‘raja’ baterai kendaraan listrik, melalui program hilirisasinya. Oleh karena itu, saat ini sudah banyak pabrik pengolahan bijih nikel yang dibangun di dalam negeri.

Berikut setidaknya 3 pabrik penghasil bahan baku utama dan terbesar untuk baterai kendaraan listrik yang ada di Indonesia :

1. Nikel Sulfat

Indonesia melalui program hilirisasinya sudah mampu menghasilkan nikel sulfat atau bahan baku utama penyusun prekursor katoda baterai kendaraan listrik.

Produksi nikel sulfat itu dimiliki oleh Harita Nickel melalui unit bisnisnya PT Halmahera Persada Lygend (PT HPL) yang merupakan perusahaan afiliasi bisnis dari PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).

Belum lama ini NCKL meresmikan operasional produksi nikel sulfat pertama di Indonesia dan juga merupakan yang terbesar di dunia. Peresmian operasi produksi nikel sulfat dengan kapasitas 240 ribu ton per tahun tersebut dilakukan di kawasan operasional Harita Nickel di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Pabrik nikel sulfat yang berdiri di Pulau Obi ini, diklaim akan menjadi pabrik pertama di Indonesia yang memproduksinya sekaligus menjadi yang terbesar di dunia dari sisi kapasitas produksi. Ekspor perdana 5.584 ton nikel sulfat yang dikemas dalam 290 kontainer telah dilakukan pada 16 Juni 2023.

2. Katoda Tembaga

Pabrik atau fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga menjadi katoda tembaga milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE, Gresik, Jawa Timur. Sampai pada Juni 2023 ini, progress pembangunan pabrik tembaga itu sudah mencapai 70,6%.

Pabrik tembaga yang di gadang-gadang sebagai smelter single line atau satu jalur terbesar di dunia ini diklaim mampu menyerap konsentrat tembaga sebanyak 1,7 juta ton per tahun. Nantinya, produk katoda tembaga yang dihasilkan bisa mencapai 600 ribu ton per tahun.

Selain menghasilkan produk katoda tembaga, smelter ini nantinya akan menghasilkan produk sampingan diantaranya produk yang terkandung dalam lumpur anoda, yakni emas dan perak murni sebanyak 6 ribu ton per tahun.

Produk sampingan lainnya, yaitu asam sulfat sebanyak 1,5 juta ton per tahun, terak tembaga sebanyak 1,3 juta ton per tahun, dan gipsum sebanyak 150 ribu ton per tahun.

Serapan tenaga kerja di smelter anyar tersebut sebanyak 150 ribu pekerja, yang mana sebanyak 98% merupakan tenaga kerja Indonesia diantaranya pekerja lokal sebesar 50%.

3. Foil Tembaga

Tanpa gembar-gembor, ternyata perusahaan asal China yakni PT Hailiang Nova Material Indonesia membangun pabrik foil tembaga di KEK JIIPE, Gresik, Jawa Timur.

Pabrik Foil tembaga yang diklaim menjadi yang terbesar di Asia Tenggara ini bisa digunakan sebagai pengumpul (kolektor) arus listrik di kutub negatif (anoda) baterai kendaraan listrik EV.

Pabrik ini memproduksi foil tembaga electrodeposit untuk kendaraan listrik bertenaga baterai lithium. Pabrik ini dibangun dengan kapasitas 100 ribu ton per tahun yang terbagi dalam 2 fase dan diperkirakan dapat menyerap tenaga kerja 1.920 orang.

Proses peletakan batu pertama alias groundbreaking pabrik foil tembaga ini turut disaksikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Selasa (20/06/2023).

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/news/20230727141437-4-457828/mau-investasi-di-ri-tesla-cs-syaratkan-3-hal-ini

0 0 votes
Stock Rating