Rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (16/3/2023). Gonjang-gajing perbankan dunia membuat sentimen pelaku pasar memburuk, dan menyulitkan rupiah menguat.

Begitu perdagangan dibuka, rupiah melemah 0,26% ke Rp 15.400/US$, melansir data Refinitiv. Kolapsnya Silicon Valley Bank dan Signature Bank di Amerika Serikat membuat pelaku pasar was-was.

Tingginya suku bunga bank sentral AS (The Fed) menjadi salah satu penyebab kolapsnya SVB. Masalahnya kini tidak hanya di Amerika Serikat saja, hampir di semua negara menerapkan suku bunga tinggi. Apa yang terjadi dengan SVB dan Signature Bank tentunya bisa juga terjadi di negara lain.

Terbukti, saat ini bank Credit Suisse kini sedang gonjang-ganjing.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan sudah mengingatkan atas dampak domino dari tumbangnya bank-bank di AS.

“Ada kebangkrutan bank di Amerika, Silicon Valley Bank. Semuanya ngeri begitu ada satu bank yang bankrut. Dua hari, muncul lagi bank berikutnya yang kolaps, Signature Bank,” tutur Jokowi pada pembukaan Business Matching Produk Dalam Negeri, Jakarta, Rabu (15/3/2023).Presiden juga meminta semua pihak untuk waspada mengingat dampak besar dari krisis perbankan tersebut.

“Semua negara sekarang ini menunggu efek dominonya akan kemana, oleh sebab itu kita hati-hati,” imbuhnya.

Selain itu, pengumuman kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) siang nanti juga menjadi perhatian utama.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memproyeksi bank sentral akan menahan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR).

Dari 12 institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus, semuanya memperkirakan BI akan menahan suku bunga di level 5,75%.

Meski demikian, pelaku pasar tentunya akan mencermati pernyataan BI khususnya terkait kondisi sektor perbankan dunia setelah kolapsnya SVB.

 

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20230316090648-17-422116/perbankan-dunia-gonjang-ganjing-rupiah-kena-getahnya

0 0 votes
Stock Rating