Persidangan kasus penipuan keuangan terbesar di Vietnam dimulai pada hari Selasa, dengan hampir 90 terdakwa dituduh menjadi bagian dari penipuan senilai US$ 12,46 miliar (Rp 195 triliun), yang beberapa di antaranya berisiko dijatuhi hukuman mati.

Sidang tersebut, yang diperkirakan akan berlangsung hingga akhir April di Pengadilan Rakyat Kota Ho Chi Minh, merupakan bagian dari kampanye yang lebih luas melawan korupsi di Vietnam yang telah dijanjikan oleh pemimpin Partai Komunis yang berkuasa, Nguyen Phu Trong, namun belum ada hasil yang nyata.

Persidangan terhadap pemilik perusahaan pengembang real estate Van Thinh Phat Holdings Group ini akan memanggil ribuan orang sebagai saksi dan tersangka dan sekitar dua ratus pengacara berpartisipasi dalam persidangan, dilansir Reuters menurut laporan media pemerintah.

Taipan real estat Truong My Lan dan antek-anteknya dituduh menyedot 304 triliun dong ($12,46 miliar) dari aset bank terbesar di negara itu, Saigon Joint Stock Commercial Bank (SCB), yang secara efektif dikendalikan oleh Lan melalui puluhan proxy, menurut penyelidik.

Jika terbukti, hal ini bisa menjadi salah satu penipuan keuangan terbesar di Asia. Skandal korupsi 1MDB di Malaysia misalnya hanya melibatkan kerugian sekitar US$4,5 miliar.

Dari awal tahun 2018 hingga Oktober 2022, ketika SCB mendapat dana talangan dari negara setelah simpanannya habis, Lan mengambil sejumlah besar uang dengan mengatur pinjaman yang tidak sah kepada perusahaan cangkang, menurut penyelidik publik.

US$1,2 miliar lainnya hilang dari tangan pemegang obligasi Van Thinh Phat, perusahaan real estat milik Lan, menurut para penyelidik.

Lan selama bertahun-tahun telah menjadi tokoh sentral dalam keuangan Vietnam dan mengatur penggabungan SCB dengan dua pemberi pinjaman lainnya pada tahun 2011 untuk menyelamatkan bank-bank yang bermasalah dalam sebuah rencana yang dikoordinasikan dengan bank sentral.

Dia memiliki beberapa properti di Ho Chi Minh City dan memiliki banyak aset di luar negeri, menurut penyelidik dan informasi publik.

Auditor internasional terkemuka, termasuk Ernst & Young dan KPMG, tidak menyampaikan kekhawatiran apa pun tentang bank tersebut dalam audit mereka, menurut dokumen publik.

Selain tuduhan penggelapan, Lan juga dituduh memberikan suap dan melanggar peraturan perbankan. Dia berisiko menerima hukuman mati.

Terdakwa lainnya termasuk suami Lan, seorang warga negara Tiongkok, dan 15 pejabat bank sentral, termasuk seorang inspektur senior yang dituduh menerima suap senilai US$5,2 juta dari Lan.

Skandal ini telah menyingkap kelemahan-kelemahan dalam sistem perbankan, dengan seruan untuk meningkatkan pelatihan profesional, peraturan yang lebih ketat, dan meningkatkan mekanisme pemeriksaan untuk mencegah penyalahgunaan lebih lanjut.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20240305122845-17-519745/rp-195-t-lenyap-sidang-skandal-perbankan-terbesar-asean-dimulai

0 0 votes
Stock Rating