Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona merah pada perdagangan sesi I Jumat (15/3/2024). 

IHSG merosot 0,92% ke posisi 7.364,674 pada penutupan perdagangan sesi I. IHSG terkoreksi ke level psikologis 7.300, setelah selama tiga hari beruntun mencetak rekor tertinggi sepanjang masanya.

Nilai transaksi indeks pada perdagangan sesi I hari ini mencapai sekitar Rp 6 triliun dengan melibatkan 8,4 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 605.393 kali.

Secara sektoral, sektor bahan baku menjadi penekan terbesar IHSG di sesi I hari ini, yakni mencapai 1,36%. Selain itu, sektor keuangan juga menjadi penekan atau laggard yakni sebesar 1,01%.

Akan tetapi ternyata sejumlah saham berbeda nasib dengan IHSG hari ini. Ada 5 saham tercatat terbang paling tinggi. 

Mitra Investindo tercatat sebagai emiten dengan kenaikan saham tertinggi hari ini atau 33,77% menjadi Rp 206. Sejak awal perdagangan saham MITI telah melesat dengan jumlah transaksi 4.340 kali.

Kemudian Pelat Timah Nusantara atau NIKLnaik 23,26% ke level Rp 530 dengan nilai transaksi Rp 8,14 miliar dan jumlah transaksi 3.741 kali.

Adapun IHSG sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masanya selama tiga hari beruntun, sehingga investor pun mulai merealisasikan keuntungannya pada hari ini.

Selain itu, IHSG terkoreksi juga mengekor bursa saham global, di tengah memanasnya kembali inflasi di Amerika Serikat (AS).

Kemarin, indeks Harga Produsen (producer price index/PPI) AS pada Februari lalu bergerak lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar. Masih panasnya data PPI bisa memicu prospek pemangkasan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) pada Juni menyusut.

Sementara Indeks Harga Konsumen (consumer price index/CPI) AS naik 3,2% pada periode Februari, meleset dari ekspektasi pasar sebesar 3,1% yang sedikit lebih rendah dan lebih tinggi dari 3,1% pada periode Januari.

Selain itu, jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim pengangguran mencapai 209.000 pada pekan yang berakhir 9 Maret. Nilai tersebut malah turun dibandingkan pekan sebelumnya sebesar 210.000 dan berbanding terbalik dengan konsensus yang proyeksi naik ke 218.000 klaim.

Di sisi lain,penjualan ritel AS periode Februari 2024 dengan hasil 1,5% secara tahunan (yoy), melampaui ekspektasi pasar berdasarkan data Trading Economic sebesar 1% yoy.

Data-data tersebut secara keseluruhan menunjukkan ekonomi AS masih tangguh. Pasalnya, penjualan ritel tumbuh positif, inflasi panas, disertai klaim pengangguran turun. Namun, hal tersebut bisa berimplikasi berbeda untuk prospek pemangkasan suku bunga the Fed.

PerhitunganCMEFedWatch Tool pada Jumat dini hari waktu Indonesia, menunjukkan peluang 99% suku bunga ditahan pada pertemuanFOMC Maret ini, sementara pemangkasan suku bunga pada Juni menunjukkan peluang 54,5%, ini menyusut dibandingkan pekan lalu yang nilainya nyaris mencapai 60%.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20240315130215-17-522266/saham-ini-malah-cuan-banyak-saat-ihsg-turun-nyaris-1

5 1 vote
Stock Rating