erusahaan aplikasi taksi online asal AS, Uber Technologies Inc., berhasil mencetak laba operasi untuk pertama kali sejak perusahaan mencatatkan saham perdana (initial public offering/IPO) di New York Stock Exchange (NYSE) 5 tahun lalu pada 10 Mei 2019.

Sejumlah media internasional menilai pencapaian Uber ini menjadi momen penting bagi perusahaan, yang sudah menghabiskan miliaran dolar AS milik investor untuk agresif ekspansi dan kerap dibumbui kontroversi di seluruh dunia ini.

Dilansir siaran pers Uber per 7 Februari 2024, perusahaan membukukan laba operasi setahun mencapai US$ 1,11 miliar atau setara dengan Rp 17,43 triliun (asumsi kurs Rp 15.700/US$), dari Desember 2022 (year on year/yoy) yang rugi operasi US$ 1,83 miliar atau sekitar Rp 29 triliun.

Khusus di kuartal 4-2023, Uber mencatat laba operasi US$ 652 juta atau sekitar Rp 10,24 triliun, dari sebelumnya rugi operasi US$ 142 juta di Desember 2022.

Sementara itu, Uber juga membukukan laba bersih atribusi ke entitas induk mencapai US$ 1,89 miliar atau sekitar Rp 30 triliun dari setahun sebelumnya rugi entitas induk US$ 9,14 miliar. Pencapaian laba bersih ini sudah menghitung manfaat bersih (sebelum pajak) sebesar US$ 1,6 miliar atau Rp 25 triliun dari revaluasi investasi ekuitas Uber.

“Tahun 2023 merupakan titik perubahan bagi Uber, membuktikan bahwa kami bisa terus tumbuh kuat dan menguntungkan dalam skala besar. Pelanggan kami kini lebih besar dan lebih terlibat dibandingkan dengan sebelumnya, di mana platform kami mendukung rata-rata hampir 26 juta perjalanan setiap hari di tahun lalu,” kata Dara Khosrowshahi, Chief Executive Office Uber, dikutip dalam siaran pers, Selasa (21/2/2024)

Bisnis Uber disumbang oleh tiga lini bisnis utama di Q4-2023 yakni mobilitas dengan pesanan kotor US$ 19,29 miliar (naik 29%), pengiriman US$ 17,01 miliar (naik 19%). Adapun bisnis kargo turun 17% menjadi US$ 1,28 miliar, sehingga total orderan kotor sebesar US$ 37,58 miliar.

Pencapaian kinerja ini mendorong investor mulai berspekulasi apakah Uber siap membeli kembali sahamnya di publik alias buyback atau bahkan bisa membagikan dividen kepada para pemegang sahamnya.

“Keunggulan platform Uber dan disiplin investasi dalam mendorong pertumbuhan mampu menghasilkan rekor orderan dan percepatan pemesanan bruto di Q4,” kata Prashanth Mahendra-Rajah, Chief Financial Officer Uber. “Kami menanti momen untuk berbagi lebih banyak terkait dengan strategi dan rencana alokasi modal kami di Investor Update pekan depan,” katanya.

Data NYSE mencatat, laporan keuangan kuartal 4 dan tahunan ini mendorong saham UBER melesat 20% sebulan terakhir menjadi US$ 78,41/saham per 16 Februari, dari 19 Januari di US$ 65,11. Dalam setahun, sahamnya melesat 129% dari US$ 34,20/saham per 21 Februari 2023. Saat ini kapitalisasi pasar Uber, yang didirikan tahun 2009 oleh Garrett Camp dan Travis Kalanick ini, mencapai US$ 161,36 miliar atau setara Rp 2.533 triliun.

Dari dalam negeri, sentimen keberhasilan perusahaan teknologi global ini mulai menyulut saham emiten teknologi di Bursa Efek Indonesia (BEI), salah satunya PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Data BEI mencatat saham GOTO ditutup naik 1,20% di Rp 84/saham di awal pekan ini dan naik 11% dalam 3 bulan terakhir.

Apalagi perseroan sudah berhasil mencapai EBITDA yang disesuaikan (adjusted) positif di kuartal 4-2023, melampaui panduan kinerja EBITDA yang disesuaikan untuk tahun 2023. Namun rincian mengenai kinerja masih akan disampaikan saat paparan kinerja pada Maret mendatang.

Direktur Utama Grup GoTo, Patrick Walujo, mengatakan setelah berhasil mencapai EBITDA yang disesuaikan positif pada Q4-2023, perseroan akan mengakselerasi pertumbuhan bisnis. “Salah satunya melalui dukungan dan kerja sama dengan ekosistem mitra bisnis perseroan,” kata Patrick Walujo, dalam siaran pers di akhir Januari.

Per September 2023, EBITDA yang disesuaikan GoTo membaik, turun 71% jadi minus Rp 3,75 triliun dari minus Rp 12,87 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sedangkan rugi bersih juga berhasil dipangkas 54% menjadi Rp 9,59 triliun dari tahun sebelumnya Rp 20,91 triliun.

“Saham pilihan teratas kami tahun ini yakni perbankan, diikuti logam, mempertimbangkan program prioritas hilirisasi, dan saham teknologi, dalam hal ini GOTO,” tulis dua analis PT Indo Premier Sekuritas, Jovent Muliadi dan Anthony, dalam riset per 2 Februari 2024. Tekanan jual asing terhadap GOTO menurut mereka juga mulai stagnan cenderung berkurang.

Di sisi lain, dua analis Bahana Sekuritas, Robert Sebastian dan Satria Sambijantoro, juga melihat ruang yang luas untuk pertumbuhan lebih lanjut dan profitabilitas yang lebih tinggi, seiring dengan kondisi pasar sudah berada dalam duopoli dengan Gojek dan Grab sebagai pelaku usaha yang masih bertahan.

“Bisnis on-demand services yakni Gojek, Gofood, Gocar, Gosend, dan lainnya berjalan baik, dan mencapai EBITDA disesuaikan positif, tidak termasuk biaya pada Q3-23, dengan potensi mencapai EBITDA disesuaikan positif penuh di Q4-23,” tulis keduanya, dalam riset 12 Februari lalu.

Sebelumnya, GOTO menargetkan bisa mencapai EBITDA Grup yang disesuaikan positif pada Q4-2023 dan EBITDA Grup yang disesuaikan untuk keseluruhan tahun 2023 di kisaran antara minus Rp 4,5 triliun dan minus Rp 3,8 triliun. Per September 2023, GOTO mencatatkan perbaikan kuartalan atas EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar 74% yoy menjadi negatif Rp 942 miliar.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20240220103138-17-515901/sejarah-uber-cetak-laba-2023-rp-30-t-akankah-goto-menyusul

0 0 votes
Stock Rating