Harga minyak mentah bergerak positif pada awal perdagangan hari ini. Harga minyak cenderung menguat, berusaha melanjutkan penguatan pada perdagangan sebelumnya karena sedikitnya peningkatan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) hingga komentar penurunan suku bunga The Federal Reverse (The Fed).

Pada awal perdagangan hari ini hingga pukul 08.23 WIB Kamis (7/3/2024), harga minyak mentah WTI bergerak menguat 0,16% di posisi US$79,26 per barel, begitu juga dengan harga minyak mentah brent bergerak lebih tinggi atau naik 0,17% di posisi US$ 83,10 per barel.

Pada perdagangan Rabu (6/3/2024), harga minyak mentah WTI ditutup melesat 1,25% di posisi US$79,13 per barel, begitu juga dengan harga minyak mentah brent terapresiasi 1,12% ke posisi US$ 82,96 per barel.

Harga minyak naik tipis sekitar 1% pada perdagangan Rabu karena peningkatan persediaan minyak mentah AS yang lebih kecil dari perkiraan, penarikan besar-besaran dari stok sulingan dan bensin, serta pernyataan dari Ketua The Federal Reserve (The Fed) AS bahwa ia masih memperkirakan penurunan suku bunga tahun ini.

Suku bunga yang lebih rendah dapat meningkatkan permintaan minyak dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hal ini membuat minyak Brent naik untuk pertama kalinya dalam lima hari terakhir.

Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan perusahaan-perusahaan energi menambah persediaan minyak mentah dalam jumlah yang lebih kecil dari perkiraan yakni 1,4 juta barel selama pekan yang berakhir 1 Maret, sementara persediaan sulingan dan bensin turun jauh lebih besar dari perkiraan.

Hal tersebut berbeda dengan perkiraan analis yang memperkirakan peningkatan sebesar 2,1 juta barel dalam jajak pendapat Reuters dan peningkatan sebesar 0,4 juta barel yang ditunjukkan dalam data dari American Petroleum Institute (API), sebuah kelompok industri.

Sementara itu perusahaan energi juga menarik 4,1 juta barel stok sulingan, termasuk solar dan minyak pemanas, dan 4,5 juta barel stok bensin pada minggu lalu.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan analis yang memperkirakan penarikan mingguan, yaitu 0,7 juta barel sulingan dan 1,6 juta barel bensin.

“Penurunan bensin dan sulingan menjadi perhatian pasar. Ini adalah peringatan bahwa kita mempunyai pasar yang sangat ketat,” ujar analis Price Futures Group Phil Flynn, kepada Reuters.

Kemudian dari The Fed, dalam sambutannya yang disiapkan untuk Kongres, Ketua The Fed AS Jerome Powell mengatakan bank sentral masih memperkirakan akan menurunkan suku bunga acuannya pada akhir tahun ini, meskipun para pengambil kebijakan masih membutuhkan “kepercayaan yang lebih besar” terhadap penurunan inflasi yang terus berlanjut.

Namun, yang memperumit keputusan The Fed adalah laporan yang memberikan sinyal beragam. Data penggajian (payrolls) swasta AS meningkat sedikit lebih rendah dari perkiraan pada bulan Februari, sehingga memperkuat alasan penurunan suku bunga, sedangkan data yang menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi AS dari awal Januari hingga akhir Februari mendukung alasan untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah.

Kemudian dolar AS merosot ke level terendah dalam satu bulan terhadap sejumlah mata uang lainnya setelah komentar Powell.

Melemahnya dolar dapat meningkatkan permintaan minyak dengan membuat bahan bakar lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Adapun dari importir minyak, China mengumumkan target pertumbuhan ekonomi pada tahun 2024 sekitar 5%, meskipun kurangnya rencana stimulus besar-besaran untuk meningkatkan perekonomian yang sedang berjuang menimbulkan kekhawatiran akan lesunya pertumbuhan permintaan minyak.

“Pasar secara khusus berharap melihat ekspansi fiskal lebih lanjut untuk membantu memenuhi target pertumbuhan,” ujar Tony Sycamore, analis IG di Sydney, kepada Reuters.

Sementara itu, pembicaraan mengenai gencatan senjata dan pertukaran sandera antara Israel dan Hamas menemui jalan buntu ketika krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah dan sebuah kapal dagang terbakar setelah serangan fatal di Laut Merah.

Gangguan pergerakan kapal tanker minyak akibat serangan Laut Merah oleh milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman, serta perpanjangan pengurangan pasokan OPEC+ terbaru, menyebabkan terbatasnya pasokan, terutama di pasar Asia.

Keterbatasan ini tampak jelas ketika Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia, mengumumkan harga yang sedikit lebih tinggi untuk penjualan minyak mentah pada bulan April ke Asia, pasar terbesarnya.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20240307083235-17-520304/stok-minyak-as-dibawah-perkiraan-minyak-kembali-rebound

0 0 votes
Stock Rating